Himawan Rizky P.N*[2]
100731407182
Jurusan Pendidikan Sejarah, Fakultas Ilmu Sosial,
Universitas Negeri Malang
Kata
Kunci : Tentara, Laskar, Kemerdekaan
ABSTRAK
Dalam usaha mempertahankan kemerdekaan Republik Indonesia yang telah di
proklamasikan tanggal 17 Agustus 1945 masih terjadi pergolakan perjuangan
rakyat Indonesia di daerah - daerah yang menyebabkan pertempuran dengan tentara
Belanda yang masih ingin menjajah Negara Republik Indonesia.
Pertempuran yang terjadi di berbagai daerah di Indonesia yang merupakan
wujud dari perjuangan rakyat Indonesia guna mempertahankan kemerdekaan Republik
Indonesia ini terjadi khususnya mulai di daerah Surabaya kemudian berlanjut ke
karesidenan Pasuruan sampai ke Karesidenan Malang.
Perjuangan mempertahankan kemerdekaanini tidak lepas dengan peran tokoh
– tokoh islam pada waktu itu serta pasukan santri yang di latih untuk membantu
usaha melawan sekutu dan belanda ini dinamakan Laskar yang beranggotakan para santri
– santri yang ada di pondok pesantren di sekitar malang.
Para laskar santri itu di kirim untuk membantu berjuang di garis depan
di Surabaya melawan sekutu yang bertempur sampai meliputi karesidenan Pasuruan
hingga sampai ke karesidenan Malang
1. PENDAHULUAN
Usaha dalam mempertahankan kemerdekaan di daerah khususnya yang berada
mulai dari Surabaya kemudian menyebar sampai ke karesidenan Pasuruan sampai
pada akhirnya di karesidenan Malang ini di lakukan oleh rakyat Indonesia baik
warga sipil maupun tentara - tentara yang tergabung dalam satuan tempat atau
batalyon - batalyon yang berada di desa - desa daerah pergolakan terjadi yang
menghendaki agar tentara - tentara Belanda yang masih berada di sekitar
Surabaya, Pasuruan, dan Malang pergi dan tidak melakukan praktik - praktik
penjajahan lagi karena Indonesia sudah menjadi Republik yang merdeka.
Pertempuran fisik mempertahankan kemerdekaan yang terjadi di awali di
Surabaya yang merupakan anggota dari laskar - laskar yang terbentuk di
Singosari Malang, pertempuran fisik di Surabaya ini bertujuan untuk merebut
kembali kota wonokromo dari Belanda dan Sekutu. Para pasukan laskar ini siap
bertempur di garis terdepan melawan penjajah dengan berbekal senapan, bambu
runcing, ketapel, senjata tajam (samurai, keris, dll) yang sebelumnya sudah di
do’akan oleh para kyai agar dapat membantu menumpas para penjajah dan dapat
merebut kota Wonokromo sebagai basis pertama pertahanan rakyat di daerah
Surabaya (Dewan Harian angkatan’45, 2002:5-6).
Pertempuran yang berada di karesidenan Surabaya itu pada awalnya di
fokuskan untuk merebut kembali kota Wonokromo yang di gunakan sebagai
pertahanan pertama para pejuang dan lascar islam unutk melawan sekutu dan
Belanda, namun walaupun para pejuang sudah berusaha dengan darah dan nyawa tetap
adanya korban dari peperangan ini tidak dapat di elakkan lagi,5 anggota dari
laskar dan para pejuang yang berada di garis depan pertahanan di karesidenan
Surabaya ini gugur. Jenazahnya kemudian di bawa kembali ke Malang untuk di
makamkan di Taman Makam Pahlawan Suropati ( yang kemudian menjadi penghuni
pertama dari T.M.P Suropati Malang tersebut ), dengan gugurnya lima anggota
laskar pejuang yang berada di garis depan dan serangan pasukan sekutu yang
semakin gencar guna menghindari banyak korban lagi para pasukan pejuang dan
laskar islam yang berada di garis depan ini mundur sampai sebelah selatan ke
desa Carat Gempol untuk mengatur pertahanan dari sekutu dan Belanda kembali (Dewan
Harian angkatan’45, 2002:7).
Ketika Dekrit Presiden merubah nama TRI (Tentara Rakyat Indonesia)
menjadi TNI (Tentara Nasional Indonesia) perjuangan rakyat Indonesia tidak
berhenti sampai di situ, Karena sekutu dan Belanja semakin gencar menggempur
basis – basis pertahanan para pejuangan Indonesia baik yang menjadi anggota tentara
maupun yang sipil yang ingin membantu kemerdekaan Indonesia seutuhnya, maka
kompi IV di bawah pimpinan Lettu Abdul Samad Tarsan yang merupakan salah satu
pimpinan TRI yang menjadi TNI di malang melaksanakan tugasnya di Kalianyar
Bangil Pasuruan yang telah di tunggu oleh rakyat Kalianyar Bangil untuk
berjuang mempertahankan kedaulatan Indonesia secara utuh.
Namun dalam perjalannya para tentara yang berangkat bertugas ke
Kalianyar Bangil ini terjadi kejadian – kejadian yang bias di anggap heroic
karena mendapat kejaran ataupun perampasan dari pasukan sekutu dan Belanda,
serta terjadi kontak tembak pada saat istirahat. Namun pasukan pejuang kita
tidak tinggal diam, para pasukan pejuang yang terdiri dari para tentara yang di
kirim dari karesidenan Malang untuk di tugaskan di Kalianyar Bangil ini juga
menyerang dan menyergap pos – pertahanan Belanda yang berada di pinggiran kota
yang di lalui,dan menahan orang – orang yang di anggap memihak terhadap Belanda
(Dewan Harian angkatan’45, 2002:14).
Di perjalanan menuju Kalianyar Bangi para pejuang Indonesia di wakili
oleh tentara kompi IV salah satunya menyerbu markas Belanda yang berada di
Puspo Pasuruan untuk menyelamatkan tawanan Belanda yaitu Letnan Acub Zainal
yang di tawan oleh Belanda di Puspo, sebelumnya para pasukan Belanda yang
berada di markas di Puspo tersebut sudah di berikan surat ultimatum dari
pimpinan pusat pejuang tentara yang berada di Malang untuk menyerah karena
markas tersebut telah di kepung oleh pasukan pejuang tentara Indonesia. Dengan
itu maka para pasukan Belanda itu menyerah tanpa ada perlawanan yang berarti
dan semua senjata yang ada di lucuti dan di rampas, namun bala bantuan Belanda
datang yang kemudian para pejuang apsukan tentara Indonesia ini meniggalkan
markas Belanda yang sebelumnya telah menyelamatkan Letnan Acub Zainal dan
menahan para tentara Belanda di markasnya sendiri.
Sebelumnya pasukan pejuang tentara yang berada dalam pimpinan Lettu
Abdul Samad Tarsan ini mengadakan gabungan dengan pejuang lain yaitu pasukan
tentara dari kompi lain (Batalyon 96 Sultan Agung) untuk melakukan penyerangan
terhadap markas sekutu yang berada di Nongojajar Pasuruan. Pada pukul 06.00
pertempuran pun di mulai walaupun pasukan sekutu dan Belanda yang berada di
markasnya di daerah Nongkojajar Pasuruan itu tidak banyak, namun perlawanan
tetap di lakukan dengan bertahan di dalam box – box perlindungan lubang bawah
tanah sehingga pasukan pejuang tentara Indonesia kesulitan menembus ke dalam
markas, walaupun sudah menggunakan senjata lengkung dari Jepang (Kekidanto) dan
granat. Para pejuang yang melakukan gabungan dengan tekad bulad ingin merebut
markas sekutu dan Belanda yang berada di Nongkojajar ini dengan serentak
menyerbu markas sekutu dan Belanda sehingga dapat di rebut dan di duduki
meskipun hanya 3 jam karena pasukan sekutu dan Belanda datang dengan truk –
truk yang penuh dengan pasukan Infanteri dan pesawat terbang yang melakukan
pengintaian dari udara, dengan kekuatan yang baru di datangkan sekutu dan
Belanda dari markasnya di Purwodadi maka para pejuang tentara Indonesia
menghindari pertempuran lagi karena kelelahan dan keterbatasan amunisi yang ada
sehingga melakukan konsolidasi dengan pasukan gabungan ke tempat lain (Dewan
Harian angkatan’45, 2002:15).
Dalam meneruskan pejalanan menuju Bangil Pasuruan para pejuang tentara
Indonesia ini berpapasan dengan pasukan sekutu dan Belanda di daerah Gerbo,
sehingga kontak senjata pun tak bisa di hindari lagi, karena pasukan pejuang
tentara Indonesia ini berada di atas ketinggian dan strategis dalam melakukan
perlawanan sehingga pasukan sekutu dan Belanda mundur dan mencari bantuan
kepada pos pasukan sekutu dan Belanda yang berada di Gerbo. Kemudian yang
meneruskan perjalanan kembali untuk ke Bangil, sesampainya di Raci Bangil para
pasukan pejuang tentara Indonesia sampai sekitar jm 16.30, namun baru sampai di
Raci pasukan tentara Indonesia di ketahui keberadaannya oleh tentara sekutu dan
Balanda yang melakukan patrol dengan menggunakan pick up. Sehingga para pasukan
tentara pejuang Indonesia menyebar dan berlarian kearah semak – semak di bukit
lapangan Raci, namun pasukan patrol sekutu dan Belanda tidak tinggal diam saja,
kemudian tentara sekutu dan Belanda melakukan pengejaran dengan menggunakan
panser dan tank lapis baja, namun ketika hari sudah gelap para pasukan sekutu
dan Belanda itu mundur dan meniggalkan lapangan Raci (Dewan Harian angkatan’45,
2002:16).
2. PERTEMPURAN DI SUKOREJO PASURUAN
Pada masa perlawanan terhadap sekutu di karesidenan Surabaya dan
Pasuruan yang juga meliputi daerah malang, yang di lakukan oleh para pejuang
rakyat Indonesia baik yang merupakan kelompok organisasi yang besar layaknya
TNI yang menjadi aparatur Negara, maupun juga laskar – laskar kelompok islam
yang ingin mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Itu juga yang di lakukan oleh
rakyat yang ada di daerah sekitar Pandaan, Tretes, Prigen atau juga bisa di
sebut berbatasan dengan Sukorejo.
Pertempuran yang pada mulanya di lakukan di daerah Tretes terhadap
markas sekutu dan Belanda di villa 2,namun dengan letaknya yang strategis di
atas ketinggian sehingga pasukan tentara Indonesia sukar menembus markas
tersebut yang juga medan yang berbukit – bukit, hal itu di tandai dengan
gugurnya dua pasukan dari Indonesia. Meskipun telah ada gabungan pasukan yang
di tambah dari daerah Trawas tetap belum mampu untuk merebut markas sekutu dan
Belanda.
Pasukan Indonesia yang berada di daerah Tretes yang mencoba melakukan
penyerangan dan ingin merebut markas pasukan sekutu dan Belanda yang berada di
villa 2 yang pada akhirnya belum mampu merebut markas sekutu dan Belanda
itu berupa pasukan militer sekompi yang
di pimpin oleh M. Yasin. Setelah mendapat perlawanan yang menewaskan dua orang
pasukan itu kemudian pasukan tentara Indonesia ini turun menuju Pandaan dan
melakukan serangan terhadap pos – pos pasukan sekutu dan Belanda yang ada di
Pandaan dan berhasil menahan 8 pasukan sekutu dan Belanda serta merampas
peralatan pertempuran yang ada di pos – pos pasukan sekutu dan Belanda tersebu.
Yang kemudian dengan keberhasilan pasukan pimpinan M. Yasin ini
meneruskan menyisir daerah – daerah yang di anggap akan menjadi basis pasukan
sekutu dan Belanda untuk melancarkan usaha mereka dalam menguasai kembali
Indonesia, yang di tandai melalui serangan besar – besaran pasukan sekutu dan
Belanda di daerah Prigen dan sekitar serta mencakup Sukorejo menjadi sasaran
terhadap serangan para Pasukan sekutu sehingga memaksa mundur para pejuang
Indonesia yang berada di sekitar daerah tersebut. Dengan perjalanan mundur ke
ngampit para paukan Indonesia terus menerus di hujani tembakan – tembakan dari
para pasukan sekutu dan Belanda.
Dalam kesulitan menghindari serangan dari pasukan sekutu dan Belanda,
terjadi kontak senjata dan sampai menjadi pertempuran yang sangat sengit, dalam
pertempuran tersebut banyak dari pasukan pejuang Indonesia gugur karena
terdesak oleh serangan yang di lakukan oleh pihak sekutu dan Belanda. Gugurnya
pasukan pejuang Indonesia ini ada 6 orang yang kemudian menjadi awal di
kuburkan di taman makam pahlawan di Sukorejo yang menjadi satu – satunya taman
makam pahlawan di daerah pinggiran karesidenan Pasuruan. Hal tersebut menjadi
bukti bahwa perjuangan yang di lakukan oleh rakyat Indonesia dalam rangka ingin
merasakan perjuangan yang seutuhnya yang di lakukan untuk masa depan Negara
Republik Indonesia yang masih baru Merdeka ini, korban yang ada di pihak
Indonesia ini menjadi bentuk revolusi fisik yang terjadi dengan keruntutan dan
dampak dari pertempuran – pertempuran yang ada di sekitar karesidenan Surabaya
dan Pasuruan dan meliputi Malang (Dewan Harian angkatan’45, 2002:26).
3. KESIMPULAN
Perjuangan yang di lakukan rakyat oleh Indonesia baik yang tergabung
dalam pasukan tentara atau laskar – laskar muslim sebagai bentuk usaha dalam
mempertahankan kemerdekaan di daerah khususnya yang berada mulai dari Surabaya
kemudian menyebar sampai ke karesidenan Pasuruan sampai pada akhirnya di
karesidenan Malang ini di lakukan oleh rakyat Indonesia baik warga sipil maupun
tentara - tentara yang tergabung dalam satuan tempat atau batalyon - batalyon
yang berada di desa - desa daerah pergolakan terjadi yang menghendaki agar
tentara - tentara Belanda yang masih berada di sekitar Surabaya, Pasuruan, dan
Malang pergi dan tidak melakukan praktik - praktik penjajahan lagi karena
Indonesia sudah menjadi Republik yang merdeka.
Pertempuran fisik mempertahankan kemerdekaan yang terjadi di daerah
karesidenan Surabaya dan Pasuruan yang juga meliputi Malang ini menjadi bukti
bahwa perjuangan yang di lakukan oleh rakyat Indonesia dalam rangka ingin
merasakan perjuangan yang seutuhnya yang di lakukan untuk masa depan Negara
Republik Indonesia yang masih baru Merdeka ini, Karesidenan Surabaya dan
Pasuruan dan meliputi Malang yang menjadi bukti adanya revolusi fisik dengan
terdapanya T.M.P di daerah Sukorejo untuk menghormati para pasukan yang telah
rela gugur demi Bangsa dan Negaranya.
[1]
Tugas ini berguna untuk memenuhi tugas mata kuliah Sejarah Lokal yang di
bimbing oleh P. Marsudi.
[2]
Saya mahasiswa Universitas Negeri Malang program Pendidikan Sejarah tahun
ajaran 2010 off C, alamat saya Jl. Raya Sengon Purwosari no.6 kecamatan
Purwosari kabupaten Pasuruan, email : rasta.reegae@gmail.com
Tidak ada komentar:
Posting Komentar