7 Apr 2013

Artikel Sejarah Lokal


        REVOLUSI FISIK DI SUKOREJO PASURUAN ANTARA TAHUN 1946 - 1947*[1]

Himawan Rizky P.N*[2]
100731407182
Jurusan Pendidikan Sejarah, Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Malang
Kata Kunci : Tentara, Laskar, Kemerdekaan

ABSTRAK
Dalam usaha mempertahankan kemerdekaan Republik Indonesia yang telah di proklamasikan tanggal 17 Agustus 1945 masih terjadi pergolakan perjuangan rakyat Indonesia di daerah - daerah yang menyebabkan pertempuran dengan tentara Belanda yang masih ingin menjajah Negara Republik Indonesia.
Pertempuran yang terjadi di berbagai daerah di Indonesia yang merupakan wujud dari perjuangan rakyat Indonesia guna mempertahankan kemerdekaan Republik Indonesia ini terjadi khususnya mulai di daerah Surabaya kemudian berlanjut ke karesidenan Pasuruan sampai ke Karesidenan Malang.
Perjuangan mempertahankan kemerdekaanini tidak lepas dengan peran tokoh – tokoh islam pada waktu itu serta pasukan santri yang di latih untuk membantu usaha melawan sekutu dan belanda ini dinamakan Laskar yang beranggotakan para santri – santri yang ada di pondok pesantren di sekitar malang.
Para laskar santri itu di kirim untuk membantu berjuang di garis depan di Surabaya melawan sekutu yang bertempur sampai meliputi karesidenan Pasuruan hingga sampai ke karesidenan Malang

1.  PENDAHULUAN

Usaha dalam mempertahankan kemerdekaan di daerah khususnya yang berada mulai dari Surabaya kemudian menyebar sampai ke karesidenan Pasuruan sampai pada akhirnya di karesidenan Malang ini di lakukan oleh rakyat Indonesia baik warga sipil maupun tentara - tentara yang tergabung dalam satuan tempat atau batalyon - batalyon yang berada di desa - desa daerah pergolakan terjadi yang menghendaki agar tentara - tentara Belanda yang masih berada di sekitar Surabaya, Pasuruan, dan Malang pergi dan tidak melakukan praktik - praktik penjajahan lagi karena Indonesia sudah menjadi Republik yang merdeka.
Pertempuran fisik mempertahankan kemerdekaan yang terjadi di awali di Surabaya yang merupakan anggota dari laskar - laskar yang terbentuk di Singosari Malang, pertempuran fisik di Surabaya ini bertujuan untuk merebut kembali kota wonokromo dari Belanda dan Sekutu. Para pasukan laskar ini siap bertempur di garis terdepan melawan penjajah dengan berbekal senapan, bambu runcing, ketapel, senjata tajam (samurai, keris, dll) yang sebelumnya sudah di do’akan oleh para kyai agar dapat membantu menumpas para penjajah dan dapat merebut kota Wonokromo sebagai basis pertama pertahanan rakyat di daerah Surabaya (Dewan Harian angkatan’45, 2002:5-6).

Pertempuran yang berada di karesidenan Surabaya itu pada awalnya di fokuskan untuk merebut kembali kota Wonokromo yang di gunakan sebagai pertahanan pertama para pejuang dan lascar islam unutk melawan sekutu dan Belanda, namun walaupun para pejuang sudah berusaha dengan darah dan nyawa tetap adanya korban dari peperangan ini tidak dapat di elakkan lagi,5 anggota dari laskar dan para pejuang yang berada di garis depan pertahanan di karesidenan Surabaya ini gugur. Jenazahnya kemudian di bawa kembali ke Malang untuk di makamkan di Taman Makam Pahlawan Suropati ( yang kemudian menjadi penghuni pertama dari T.M.P Suropati Malang tersebut ), dengan gugurnya lima anggota laskar pejuang yang berada di garis depan dan serangan pasukan sekutu yang semakin gencar guna menghindari banyak korban lagi para pasukan pejuang dan laskar islam yang berada di garis depan ini mundur sampai sebelah selatan ke desa Carat Gempol untuk mengatur pertahanan dari sekutu dan Belanda kembali (Dewan Harian angkatan’45, 2002:7).
Ketika Dekrit Presiden merubah nama TRI (Tentara Rakyat Indonesia) menjadi TNI (Tentara Nasional Indonesia) perjuangan rakyat Indonesia tidak berhenti sampai di situ, Karena sekutu dan Belanja semakin gencar menggempur basis – basis pertahanan para pejuangan Indonesia baik yang menjadi anggota tentara maupun yang sipil yang ingin membantu kemerdekaan Indonesia seutuhnya, maka kompi IV di bawah pimpinan Lettu Abdul Samad Tarsan yang merupakan salah satu pimpinan TRI yang menjadi TNI di malang melaksanakan tugasnya di Kalianyar Bangil Pasuruan yang telah di tunggu oleh rakyat Kalianyar Bangil untuk berjuang mempertahankan kedaulatan Indonesia secara utuh.
Namun dalam perjalannya para tentara yang berangkat bertugas ke Kalianyar Bangil ini terjadi kejadian – kejadian yang bias di anggap heroic karena mendapat kejaran ataupun perampasan dari pasukan sekutu dan Belanda, serta terjadi kontak tembak pada saat istirahat. Namun pasukan pejuang kita tidak tinggal diam, para pasukan pejuang yang terdiri dari para tentara yang di kirim dari karesidenan Malang untuk di tugaskan di Kalianyar Bangil ini juga menyerang dan menyergap pos – pertahanan Belanda yang berada di pinggiran kota yang di lalui,dan menahan orang – orang yang di anggap memihak terhadap Belanda (Dewan Harian angkatan’45, 2002:14).

Di perjalanan menuju Kalianyar Bangi para pejuang Indonesia di wakili oleh tentara kompi IV salah satunya menyerbu markas Belanda yang berada di Puspo Pasuruan untuk menyelamatkan tawanan Belanda yaitu Letnan Acub Zainal yang di tawan oleh Belanda di Puspo, sebelumnya para pasukan Belanda yang berada di markas di Puspo tersebut sudah di berikan surat ultimatum dari pimpinan pusat pejuang tentara yang berada di Malang untuk menyerah karena markas tersebut telah di kepung oleh pasukan pejuang tentara Indonesia. Dengan itu maka para pasukan Belanda itu menyerah tanpa ada perlawanan yang berarti dan semua senjata yang ada di lucuti dan di rampas, namun bala bantuan Belanda datang yang kemudian para pejuang apsukan tentara Indonesia ini meniggalkan markas Belanda yang sebelumnya telah menyelamatkan Letnan Acub Zainal dan menahan para tentara Belanda di markasnya sendiri.
Sebelumnya pasukan pejuang tentara yang berada dalam pimpinan Lettu Abdul Samad Tarsan ini mengadakan gabungan dengan pejuang lain yaitu pasukan tentara dari kompi lain (Batalyon 96 Sultan Agung) untuk melakukan penyerangan terhadap markas sekutu yang berada di Nongojajar Pasuruan. Pada pukul 06.00 pertempuran pun di mulai walaupun pasukan sekutu dan Belanda yang berada di markasnya di daerah Nongkojajar Pasuruan itu tidak banyak, namun perlawanan tetap di lakukan dengan bertahan di dalam box – box perlindungan lubang bawah tanah sehingga pasukan pejuang tentara Indonesia kesulitan menembus ke dalam markas, walaupun sudah menggunakan senjata lengkung dari Jepang (Kekidanto) dan granat. Para pejuang yang melakukan gabungan dengan tekad bulad ingin merebut markas sekutu dan Belanda yang berada di Nongkojajar ini dengan serentak menyerbu markas sekutu dan Belanda sehingga dapat di rebut dan di duduki meskipun hanya 3 jam karena pasukan sekutu dan Belanda datang dengan truk – truk yang penuh dengan pasukan Infanteri dan pesawat terbang yang melakukan pengintaian dari udara, dengan kekuatan yang baru di datangkan sekutu dan Belanda dari markasnya di Purwodadi maka para pejuang tentara Indonesia menghindari pertempuran lagi karena kelelahan dan keterbatasan amunisi yang ada sehingga melakukan konsolidasi dengan pasukan gabungan ke tempat lain (Dewan Harian angkatan’45, 2002:15).
Dalam meneruskan pejalanan menuju Bangil Pasuruan para pejuang tentara Indonesia ini berpapasan dengan pasukan sekutu dan Belanda di daerah Gerbo, sehingga kontak senjata pun tak bisa di hindari lagi, karena pasukan pejuang tentara Indonesia ini berada di atas ketinggian dan strategis dalam melakukan perlawanan sehingga pasukan sekutu dan Belanda mundur dan mencari bantuan kepada pos pasukan sekutu dan Belanda yang berada di Gerbo. Kemudian yang meneruskan perjalanan kembali untuk ke Bangil, sesampainya di Raci Bangil para pasukan pejuang tentara Indonesia sampai sekitar jm 16.30, namun baru sampai di Raci pasukan tentara Indonesia di ketahui keberadaannya oleh tentara sekutu dan Balanda yang melakukan patrol dengan menggunakan pick up. Sehingga para pasukan tentara pejuang Indonesia menyebar dan berlarian kearah semak – semak di bukit lapangan Raci, namun pasukan patrol sekutu dan Belanda tidak tinggal diam saja, kemudian tentara sekutu dan Belanda melakukan pengejaran dengan menggunakan panser dan tank lapis baja, namun ketika hari sudah gelap para pasukan sekutu dan Belanda itu mundur dan meniggalkan lapangan Raci (Dewan Harian angkatan’45, 2002:16).



2.  PERTEMPURAN DI SUKOREJO PASURUAN
Pada masa perlawanan terhadap sekutu di karesidenan Surabaya dan Pasuruan yang juga meliputi daerah malang, yang di lakukan oleh para pejuang rakyat Indonesia baik yang merupakan kelompok organisasi yang besar layaknya TNI yang menjadi aparatur Negara, maupun juga laskar – laskar kelompok islam yang ingin mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Itu juga yang di lakukan oleh rakyat yang ada di daerah sekitar Pandaan, Tretes, Prigen atau juga bisa di sebut berbatasan dengan Sukorejo.
Pertempuran yang pada mulanya di lakukan di daerah Tretes terhadap markas sekutu dan Belanda di villa 2,namun dengan letaknya yang strategis di atas ketinggian sehingga pasukan tentara Indonesia sukar menembus markas tersebut yang juga medan yang berbukit – bukit, hal itu di tandai dengan gugurnya dua pasukan dari Indonesia. Meskipun telah ada gabungan pasukan yang di tambah dari daerah Trawas tetap belum mampu untuk merebut markas sekutu dan Belanda.
Pasukan Indonesia yang berada di daerah Tretes yang mencoba melakukan penyerangan dan ingin merebut markas pasukan sekutu dan Belanda yang berada di villa 2 yang pada akhirnya belum mampu merebut markas sekutu dan Belanda itu  berupa pasukan militer sekompi yang di pimpin oleh M. Yasin. Setelah mendapat perlawanan yang menewaskan dua orang pasukan itu kemudian pasukan tentara Indonesia ini turun menuju Pandaan dan melakukan serangan terhadap pos – pos pasukan sekutu dan Belanda yang ada di Pandaan dan berhasil menahan 8 pasukan sekutu dan Belanda serta merampas peralatan pertempuran yang ada di pos – pos pasukan sekutu dan Belanda tersebu.
Yang kemudian dengan keberhasilan pasukan pimpinan M. Yasin ini meneruskan menyisir daerah – daerah yang di anggap akan menjadi basis pasukan sekutu dan Belanda untuk melancarkan usaha mereka dalam menguasai kembali Indonesia, yang di tandai melalui serangan besar – besaran pasukan sekutu dan Belanda di daerah Prigen dan sekitar serta mencakup Sukorejo menjadi sasaran terhadap serangan para Pasukan sekutu sehingga memaksa mundur para pejuang Indonesia yang berada di sekitar daerah tersebut. Dengan perjalanan mundur ke ngampit para paukan Indonesia terus menerus di hujani tembakan – tembakan dari para pasukan sekutu dan Belanda.
Dalam kesulitan menghindari serangan dari pasukan sekutu dan Belanda, terjadi kontak senjata dan sampai menjadi pertempuran yang sangat sengit, dalam pertempuran tersebut banyak dari pasukan pejuang Indonesia gugur karena terdesak oleh serangan yang di lakukan oleh pihak sekutu dan Belanda. Gugurnya pasukan pejuang Indonesia ini ada 6 orang yang kemudian menjadi awal di kuburkan di taman makam pahlawan di Sukorejo yang menjadi satu – satunya taman makam pahlawan di daerah pinggiran karesidenan Pasuruan. Hal tersebut menjadi bukti bahwa perjuangan yang di lakukan oleh rakyat Indonesia dalam rangka ingin merasakan perjuangan yang seutuhnya yang di lakukan untuk masa depan Negara Republik Indonesia yang masih baru Merdeka ini, korban yang ada di pihak Indonesia ini menjadi bentuk revolusi fisik yang terjadi dengan keruntutan dan dampak dari pertempuran – pertempuran yang ada di sekitar karesidenan Surabaya dan Pasuruan dan meliputi Malang (Dewan Harian angkatan’45, 2002:26).
3.  KESIMPULAN
Perjuangan yang di lakukan rakyat oleh Indonesia baik yang tergabung dalam pasukan tentara atau laskar – laskar muslim sebagai bentuk usaha dalam mempertahankan kemerdekaan di daerah khususnya yang berada mulai dari Surabaya kemudian menyebar sampai ke karesidenan Pasuruan sampai pada akhirnya di karesidenan Malang ini di lakukan oleh rakyat Indonesia baik warga sipil maupun tentara - tentara yang tergabung dalam satuan tempat atau batalyon - batalyon yang berada di desa - desa daerah pergolakan terjadi yang menghendaki agar tentara - tentara Belanda yang masih berada di sekitar Surabaya, Pasuruan, dan Malang pergi dan tidak melakukan praktik - praktik penjajahan lagi karena Indonesia sudah menjadi Republik yang merdeka.
Pertempuran fisik mempertahankan kemerdekaan yang terjadi di daerah karesidenan Surabaya dan Pasuruan yang juga meliputi Malang ini menjadi bukti bahwa perjuangan yang di lakukan oleh rakyat Indonesia dalam rangka ingin merasakan perjuangan yang seutuhnya yang di lakukan untuk masa depan Negara Republik Indonesia yang masih baru Merdeka ini, Karesidenan Surabaya dan Pasuruan dan meliputi Malang yang menjadi bukti adanya revolusi fisik dengan terdapanya T.M.P di daerah Sukorejo untuk menghormati para pasukan yang telah rela gugur demi Bangsa dan Negaranya.


[1] Tugas ini berguna untuk memenuhi tugas mata kuliah Sejarah Lokal yang di bimbing oleh P. Marsudi.
[2] Saya mahasiswa Universitas Negeri Malang program Pendidikan Sejarah tahun ajaran 2010 off C, alamat saya Jl. Raya Sengon Purwosari no.6 kecamatan Purwosari kabupaten Pasuruan, email : rasta.reegae@gmail.com